Titik.

0

Titik ini berhenti, terhenti.

Hening, sunyi sepi.

Dia sudah mati.

Namun belum berakhir.

Titik ini pergi tanpa pamit.

Sekali lagi kembali tapi menyakiti.

Membuat kami menangis.

Miris dan perih.

Kami berdiri tegap meski dengan mata berair.

Menanti titik kembali.

Tak menghiraukan air yang mengikis.

Tak memikirkan celaan orang lain.

Titik. Titik. Titik.

Sungguh tak berarti.

Marsya Mufida

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.