Jari – jemariku untuk Kebahagiaan Sahabatku

0
25
views

Dunia desainer memang sangat menyenangkan bagiku. Bagaimana tidak, model baju seseorang ditentukan oleh keahlian profesional jari lentik desainer. Setiap waktu aku selalu meluangkan waktu dengan menggambar desain baju yang sangat indah dan unik. Namun, bagaimana jika aku sendiri membuat rancangan gaun pengantin untuk pernikahan sahabat baikku dan bersanding dengan orang yang sangat aku cintai? Mungkin inilah kejadian yang sangat membunuh perasaanku saat itu. Menyaksikan sebuah pernikahan orang yang sangat aku cintai bersama dengan sahabat baikku sendiri dan membiarkan sebuah luka yang terus menyayat hati.
***
Suatu sore aku duduk di teras rumahku. Matahari tampak jelas menjauhi diriku dari pelupuk mata. Tampak sinar cerah yang membuat langit menjadi jingga. Bentukan siluet yang dihasilkan dari bayangan rumah dan pepohonan menambah suasana syahdu sore itu. Kini aku habiskan waktuku tanpamu di kala senja, aku merindukan kehadiranmu yang jauh di sana. Seseorang yang bernama Arka, teman yang selalu membuatku bangkit dari sebuah keterpurukan dan selalu bersanding saat aku membutuhkannya. Aku sudah berteman dengannya kurang lebih empat tahun. Kami dipertemukan di SMP 2 Negeri Pekalongan. Dan kami meneruskan sekolah di SMA Negeri 1 Pekalongan. Setiap waktu yang kami punya, seakan semua waktu milik kami berdua. Kehadirannya yang selalu ada untukku, membuat teman-temanku bertanya mengenai kedekatan kami. Saat itu, aku dan Arka hanya tertawa saat salah satu temanku berkata mengenai status hubungan kami.
“Zee, kamu sama Arka itu pacaran ya?” tanya Bella dengan wajah penasarannya.
“Hahaha, pacaran? Tidaklah. Aku dan Arka hanya sebatas teman,” jawabku sembari tertawa terbahak-bahak.
Setiap hari, setiap kami berjalan selalu ada pertanyaan dari teman kami mengenai kedekatan ini. Namun kami selalu mengangap semua rasa yang kami miliki hanya untuk sahabat dan tidak lebih.
Pada tahun ajaran baru, aku dan Arka dipertemukan di kelas baru. Kami mulai berinteraksi dengan siswa yang lainnya. Saat inilah, luka dalam hati ini mulai menyayat. Aku memperkenalkan seseorang yang bernama Maira pada Arka. Maira adalah teman baruku. Setiap hari jika aku mempunyai masalah, aku selalu bercerita kepadanya. Namun dua bulan terakhir ini aku mulai merasa ada yang berbeda dengan Maira. Setiap Arka berbicara, dia selalu memperhatikan Arka dengan senyum yang manis. Dan aku pun saat itu merasa bahwa Maira menyukai Arka.
Hari demi hari dan waktu terus berjalan. Aku sangat yakin mengenai perasaan Maira kepada Arka. Maira yang selalu berusaha dekat dengan Arka, dan terus mendekatinya. Sedangkan aku sendiri memilih untuk menjauhi Arka dan membiarkan Maira bersama dengannya. Namun perasaan tidak bisa dibohongi. Aku sudah mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Kami selalu bersama mengarungi persahabatan ini. Dan aku mengerti, bahwa aku menyukai Arka. Aku memiliki sebuah rasa istimewa selain sebuah rasa sebagai seorang sahabat. Namun apalah daya, bagai pungguk merindukan bulan. Aku merasa bahwa terlalu susah bagiku untuk mendapatkan hati Arka. Aku tidak mungkin mengungkapkan sebuah perasaanku kepadanya, terlebih aku tahu pasti akan perasaan Maira kepada Arka.
Suatu hari, Arka mulai bertanya mengenai sifatku yang sangat berbeda dari sebelumnya. Suatu malam, dering handphoneku berbunyi. Menandakan adanya pesan masuk dari seseorang. Aku pun mulai membukannya, dan ternyata adalah Arka.
“Zee, aku mau bicara sama kamu. Kenapa kamu menghindar dari aku? Apa salahku?” tanya Arka.
“Sudahlah, kamu tidak perlu membahas mengenai hal itu,” balasku dengan singkat.
“Kenapa tak perlu dibahas? Aku butuh kepastian dari kamu, Zee. Baik, jika aku punya salah sama kamu, aku minta maaf,” sahut Arka.
“Buat apa kamu meminta maaf? Ini bukan salahmu. Ini adalah salahku, saat aku mulai membuka persahabatan baru dengan seseorang yang ternyata membawa sebuah luka dalam persahabatan ini,” jawabku sembari air mata ini mulai bertetesan.
“Maira, maksud kamu? Ah, kamu tidak perlu membahas soal dia. Ingat Zee, aku lebih memilih kamu daripada dia. Dan aku sama sekali tidak ada rasa sama dia,” jawab Arka dengan tegas.
“Arka, dia itu suka sama kamu. Dia sayang sama kamu lebih dari seorang sahabat, dan lebih dari aku.” jawabku dengan tangan yang seakan tak sanggup untuk membalas pesannya.
“Ya, itu memang aku akui. Tapi aku baru kenal dia dua bulan yang lalu. Dan kehadiran kamu lebih berharga daripada kehadirannya di sampingku,” jawabnya dengan kepastian hati yang sangat kuat.
Saat aku membaca pesan terakhir, aku seperti berada di antara ribuan bintang yang jauh di langit bersama dengan harumnya bunga indah bermekaran. Dan aku mencoba untuk percaya dengan kata-kata Arka. Malam itu aku habiskan untuk bermimpi semua tentang Arka untuk menemani sisa malam ini.
Pukul 04. 55 aku terbangun di iringi dengan suara ayam berkokok seolah menyanyi membangunkan orang-orang yang masih tidur. Aku membuka jendela kamarku melihat burung-burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Jari timur sang surya menyapa dengan malu-malu untuk menampatkan cahayanya. Aku segera mandi dan tak lupa mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat Subuh. Seperti biasanya aku menghabiskan waktu di sekolahku bersama dengan teman-temanku, termasuk dengan Arka. Sepulang sekolah, Arka mengajakku untuk pergi makan bersama.
“Zee, kita makan yuk,” ajak Arka dengan wajah sumringahnya.
“Boleh. Di mana?” jawabku membalas senyuman manis Arka.
“Bagaimana jika seblak? Aku sudah lama tidak makan seblak,” ucapnya dengan wajah manjanya.
“Oke,” jawabku singkat.
Kami segera menuju ke sebuah tempat makan seblak yang berada tidak jauh dari sekolah kami, di jalan R. A. Kartini. Kami pun segera melahap seblak yang sangat lezat itu. Setelah makan seblak, kami segera pulang ke rumah. Termasuk aku yang sudah di tunggu oleh orang tuaku di gerbang sekolah.
Malam begitu sunyi. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik yang memecah keheningan malam ini, udara terasa dingin menyegarkan. Ku buka jendela kamarku, melihat langit kelabu dihiasi bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya yang berkilauan. Suasana malam ini aku gunakan untuk menggambar sebuah desain baju. Kebiasaan itu sudah aku lakukan sejak dulu. Selalu membayangkan menjadi sebuah desainer berbakat yang merupakan impianku sejak kecil. Setelah beberapa membuat desain baju yang cukup memuaskan bagiku, aku segera beranjak tidur.
***
Tiga tahun terasa cepat bagiku dan Arka. Setiap waktu kami selalu bersama mengarungi indahnya persahabatan ini, ada suka dan ada duka pula. Kami berkuliah di Universitas Yogyakarta saat itu. Namun sampai lulus SMA, rasa itu belum aku ungkapkan kepadanya. Karena aku takut bila sebuah pengungkapanku mengakibatkan rusaknya rasa persahabatan ini. Ternyata, Maira juga kuliah di sana. Dan seperti biasanya Maira selalu mencoba mendekati Arka. Suatu hari, Maira memintaku untuk membuatkan sebuah puisi tentang ungkapan perasaan cinta. Saat itu aku pun segera menuliskannya.
“Zee, buatkan aku sebuah puisi cinta dong?” tanyanya dengan manja.
“Baiklah aku akan membuatkan untukmu,” jawabku singkat.
Jari jemari ini seakan lihai untuk membuatkan sebuah puisi untuknya. Aku kira puisi tersebut untuk pemenuhan tugas kuliahnya, ternyata puisi tersebut sempat aku temukan dilembaran buku milik Arka yang saat itu tertinggal di teras kosku. Dan aku percaya bahwa Maira sangat mengambil kesempatan dari sebuah kebodohanku semata-mata untuk rasa cintanya ke Arka.
Namun saat itu aku tidak mempedulikannya. Aku tetap fokus pada kuliahku. Tujuanku kuliah bukan untuk mengejar cinta, tapi untuk mengejar semua impian yang aku harapkan dari kecil. Dan buktinya aku meraih nilai tertinggi di fakultas desain. Aku sangat bangga, karyaku ditampilkan di festival desain di Yogyakarta untuk mewakili universitasku. Dan hasilnya tidak mengecewakan, aku berhasil meraih juara satu desainer muda di Yogyakarta. Hasil yang sangat mengejutkan bagiku saat itu. Dalam acara tersebut, Arka datang dan membawa sebuah rangkaian bunga dengan coklat yang sangat lezat.
“Zee, selamat ya, kamu sangat hebat,” sembari memberikan bunga dan coklat kesukaanku.
“Oke. Terima kasih ya,” jawabku dengan bangga.
Aku sangat senang berhasil membuat semua orang tergila-gila dengan desain bajuku. Setelah beberapa tahun kami berpisah jalur untuk kepentingan karir kami masing-masing. Aku lebih memilih menetap di Yogyakarta untuk menjadi seorang desainer terkenal saat itu. Namun aku tetap meluangkan waktu untuk pulang ke kampung halaman setidaknya satu minggu sekali. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Arka dan Maira.
Saat itu, aku tidak sengaja mendapat sebuah pesan dari seseorang. Ia sangat menginginkan sebuah gaun untuk acara pernikahannya. Sebuah gaun pengantin yang aku upload di instagramku saat itu. Seseorang yang tidak aku kenal, memintaku untuk bertemu di Pekalongan. Saat itu aku segera meluncur menggunakan mobil pajero kesayanganku berwarna putih untuk ke Pekalongan bertemu dengan klien. Tak lupa aku membeli buah tangan khas Yogyakarta kesukaan orang tuaku dan sepasang sepatu untuk adik kecilku.
Keesokan harinya, aku segera menuju ke restauran untuk bertemu klien. Sesampainya di sana aku melihat laki-laki yang sangat rapi penampilannya dipadu dengan jas yang berwarna hitam. Laki-laki tersebut duduk di bangku yang sama seperti klien yang sebelumnya telah mengabariku. Aku segera duduk di bangku yang sudah klien minta. Dan ternyata di bangku itu adalah Arka. Aku sangat senang melihatnya, begitu juga dengan Arka. Ia segera memelukku erat dengan perasaan terharu. Aku pun membalas pelukannya dengan amat rindu. Kira-kira sudah satu tahun kami tidak bertemu. Setelah beberapa menit mengobrol melepas rindu, lalu aku bertanya mengenai gaun tersebut kepadanya.
“Arka, buat apa kamu menyuruhku untuk membuat sebuah rancangan baju pengantin?” tanyaku dengan penasaran.
“Iya, aku memintamu untuk membuat baju pengantin di acara pernikahanku,” jawabnya dengan berat hati.
Saat itu aku kaget mendengar kabar itu, terlebih saat aku bertanya mengenai siapa seseorang yang beruntung mendapatkan Arka.
“Lalu, siapa perempuan itu?” tanyaku dengan serius.
“Maira,” ucapnya singkat.
Sejenak hatiku membisu, dan air mata ini tak lagi mampu untuk aku bendung. Dan Arka segera memegang tanganku dengan wajah memelasnya.
“Zee, aku melakukan semua ini karena terpaksa. Maira mengalami sakit keras. Orang tuanya yang datang ke rumahku berharap penuh untuk menikahkanku dengan Maira,” jawabnya yang seakan membuatku percaya dengan kata-katanya.
“Lalu, apakah kamu tidak pernah memikirkan perasaanku?” tanyaku sembari air mata ini menetes berjatuhan.
“Zee, aku sangat mencintai kamu. Tapi, aku bingung harus bagaimana lagi,” jawabnya.
“Sudahlah, mungkin ini memang takdir Tuhan yang terbaik. Dan aku harus berkorban demi rasa cintaku untuk Maira,” balasku sepenuh hati merelakan Arka.
“Zee, maafkan aku,” pinta Arka.
“Kamu tidak perlu meminta maaf soal ini, Ka. Aku akan membuatkan gaun pengantin terindah untuk acara pernikahnmu dengan Maira. Tunggu satu minggu lagi, dan gaun itu akan segera kau pakai di acara istimewa dalam hidupmu,” ucapku dengan meninggalkan restauran dengan hati yang teramat begitu berat.
Keesokan harinya, aku segera membeli perlengkapan gaun pengantin. Kali ini, aku sendiri yang mengolah gaun indah tersebut semata-mata untuk kebahagiaan sahabatku. Jari jemari ini telah aku gunakan untuk menyusun kain demi kain tak lupa aku memberikan lace yang berwarna keemasan sesuai dengan warna kesukaan Maira. Dan aku memperbanyak kerut di bagian pinggang gaun dan bahan satin bridal untuk menambah kesan mengembang yang indah saat pengantin perempuan berjalan menuju ke pelaminan. Tak lupa aku menggunakan kemeja berwarna emas dipadu dengan jas berwarna putih untuk pakaian Arka. Sehingga tampak seimbang dengan gaun pengantin perempuan.
Seminggu telah berlalu, tiba saatnya gaun pengantin itu aku berikan kepada Arka. Tetapi aku tidak memberikannya ke Arka langsung, melainkan aku titipkan di satpam yang selalu berjaga di rumah Arka. Alasanku untuk tidak menemui Arka agar aku bisa secepat mungkin untuk melupakan sosok Arka dalam kehidupanku. Setelah dari rumah Arka, aku segera menuju ke rumah orang tuaku. Dua hari setelahnya, aku berniat membawa keluarga kecilku pergi berlibur ke Paris untuk festival desainer muda seluruh penjuru dunia. Namun saat itu aku terlebih dahulu menghadiri acara pernikahan Maira dan Arka untuk terakhir kalinya.
Aku segera menuju ke acara pernikahan itu. Sesampainya di sana, aku melihat jelas wajah Arka dan Maira yang sangat bahagia. Namun wajah Arka begitu berubah saat tubuh ini melangkah pelan di hadapan mereka berdua.
“Selamat ya, semoga kalian bahagia dalam membina rumah tangga,” ucapku kepada mereka.
“Terima kasih, Zee,” jawab Maira dengan wajah malu seakan dia tahu bahwa perbuatannya kepadaku tidaklah pantas untuk dilakukan dari seorang sahabat.
Dan saat aku berpelukan dengan kedua pengantin, aku sangat terharu melihatnya. Dulu yang sangat aku takutkan kini terjadi secara nyata. Namun sekarang aku harus bisa melupakan mereka. Dan membiarkan mereka bahagia dalam membina rumah tangganya. Aku yakin pasti Tuhan akan menggantikan peristiwa yang lebih baik lagi. Tidak lama kemudian aku segera meninggalkan acara tersebut. Keluargaku pasti sudah menunggu untuk berlibur ke Paris bersamaku. Setelah sampai di rumah, aku dan keluargaku segera berangkat ke bandara untuk berlibur ke Paris.
***
Suasana di Paris membuatku kagum akan keindahannya. Aku segera menghadiri festival desainer di sana. Satu persatu model menggenakan baju rancangan dari idola desainer mereka, termasuk model baju yang aku buat dua bulan yang lalu. Dan pemenang dari festival desainer muda itu adalah Zee Adysra dari Indonesia. Namaku yang disebut di hadapan banyak orang, seakan aku sendiri tak percaya atas prestasiku ini. Kini impianku terwujud, menjadi sosok desainer muda berbakat. Dan karirku dikenal oleh banyak orang di belahan dunia. Zee Adysra, sosok desainer muda berbakat yang penghasilannya mencapai 500 juta per bulan. Dan kini aku percaya, bahwa inilah takdir Tuhan yang terindah dalam hidupku.***

By : Widya Arsyida

 

Leave a Reply