Tersesat (part 1)

0

Duarrrrrr. Sebuah motor dari arah utara menabrak seorang gadis mungil di perempatan jalan.

“Gawat, Jade! Anaknya ketabrak motor!” ucap Hannah dengan nada dan ekspresi yang serius.

“Seriusan? Wah, gawat ,nih. Kabur yuk, Han!” kata Jaden sambil berlari membawa sebuah buku milik gadis tadi.

Usut punya usut, Jaden dan Hannah bersekongkol untuk membully teman sekelas mereka yang bernama Mira itu. Mereka awalnya melihat Mira sedang duduk di taman sambil menulis buku diarynya. Jaden dan Hannah kemudian merencanakan aksi mereka untuk mengambil buku diary Mira tersebut. Mira yang kala itu sedang berjalan sejenak untuk melihat bunga sepatu yang tumbuh di sana, terkejut karena secara tiba-tiba Hannah –orang yang biasa menjahilinya– mengajaknya mengobrol.

Hannah dan Jaden merupakan saudara kembar yang sifatnya sangatlah mirip, sama sama biang onar. Mereka dikenal sebagai anak yang baru berusia 14 tahun tetapi sudah banyak membuat masalah di desanya. Usia Jaden lebih tua 5 jam dari Hannah. Kalau waktu siang dan sore, mereka biasanya berkeliling desa berharap ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Seperti halnya kali ini. Mereka hendak mengambil buku diary Mira.

Sementara Hannah mengalihkan perhatian Mira dengan mengajaknya mengobrol, Jaden berusaha mengambil buku diary Mira yang ditinggalkannya di bangku taman. Setelah Jaden berhasil mengambil buku Mira, Hannah lantas menghampiri Jaden. “Pinjam bukunya ya, Mir!” ucap Jaden dan Hannah seraya berlari meninggalkan Mira.

Mira yang takut jikalau buku diarynya akan dibaca dan isinya disebarkan ke teman-teman sekelasnya, langsung mengejar Jaden dan Hannah. Namun, nasib buruk sedang menghampirinya. Mira tertabrak motor karena tak sempat melihat kanan kiri saat menyeberang di perempatan jalan. Bapak pengendara motor segera menolong Mira dan membawanya ke rumah sakit.

Jaden dan Hannah lari sekencang-kencangnya meninggalkan Mira. “Jaden, stop! Aku capek. Hosh, hosh. Kita duduk dulu ,yuk,” ajak Hannah dengan keringat yang terlihat hendak menetes di pelipisnya.

Jaden dan Hannah pun berhenti sejenak. Mereka duduk di pinggir jalan.

“Kita buka diarynya Mira, yuk!” ucap Jaden dengan antusias.

“Yuk!” balas Hannah dengan sama antusiasnya.

Mereka tertawa keras sekali saat membaca halaman per halaman buku diary milik Mira. Mereka menertawakan apa saja yang Mira tuliskan di sana, mulai dari orang yang disukainya, cita-cita Mira, sampai hobinya. Mereka menganggap Mira hanyalah seseorang yang lugu yang merupakan sasaran empuk kejahilan mereka.

Tibalah mereka pada suatu halaman yang menceritakan bagaimana Mira sangatlah kesal terhadap kelakuan Hannah dan Jaden yang sangat merugikannya. Mira bahkan menuliskan tragedi terparah setahun yang lalu.

Sepulang sekolah, Mira sedang piket sendirian di kelas, lalu ia didorong Jaden ke arah kaca sehingga kepalanya terbentur dan kacanya pun pecah. Mira dipaksa bungkam oleh Hannah dan Jaden bahkan sampai diancam akan terus membullynya jika Mira mengadukan Jaden ke kepala sekolah. Akhirnya, Mira pun bungkam. Mira sedih karena tidak ada bukti yang menguatkannya kalau ia didorong Jaden sehingga kaca sekolah pecah. Ia pun terpaksa berbohong dan mengaku kalau itu perbuatannya. Ia juga sempat mengalami pusing setelah kepalanya terbentur di kaca. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan berbagi keluh kesahnya pada buku diarynya itu. Ia berharap agar Hannah dan Jaden dapat berubah menjadi anak yang lebih baik.

Drrrttt. Tiba-tiba Jaden merasakan getaran arus listrik mengalir dari buku diary Mira ke tangannya selama 2 detik. Mata Jaden terbelalak.

“Han, tanganku! Tadi rasanya kayak sedikit kesetrum,” ucap Jaden dengan penuh Tanya.

“Eh? Kok bisa?” jawab Hannah terheran-heran.

“Aku nggak tau, Han. Sepertinya itu berasal dari buku ini,” kata Jaden menduga-duga.

“Coba sini pinjem bukunya,” jawab Hannah sambil mencomot buku diary Mira dari tangan Jaden.

Awalnya ia tak merasakan apa-apa. Tetapi kemudian, drrrtttt. “Awww!” teriak Hannah kaget. Ia langsung melemparkan buku itu ke arah depan.

Zyuuttttt. Seketika buku itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Jaden dan Hannah kaget bukan main. Mereka hendak berlari tetapi tubuh mereka tak bisa bergerak. Berbagai kejahilan yang mereka lakukan terhadap Mira mulai bermunculan di benak mereka. Ada sedikit penyesalan. Tiba-tiba mereka merasakan kantuk yang sangat berat. Mereka pun terlelap tanpa sadar.

-bersambung-

Previous articleGet ready guys!!
Next articleTersesat (part 2)
si mata empat yang paling kece! Bawaannya sendu-sendu gimana gitu,hehe. Mencoba productive tapi ujung-ujungnya hmmm jangan tanya...
SHARE

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.