Tersesat (part 2)

0
4
views

Hannah membuka mata. Ia segera membangunkan Jaden. Setelah mereka bangun mereka mulai menyadari, kalau ada yang aneh.

“Jade, sekarang kita di mana? Ini…sebuah gang?”

“Lhoh, bukannya kita tadi ada di pinggir jalan ya?”

“Makanya itu. Aneh.”

Lima menit kemudian.

“Han, rasanya aku seperti ingin meneteskan air mata. Dadaku sedikit sesak dan seperti ada yang mengganjal di hati.”

“Jade, yang kamu rasakan itu, sama seperti yang aku rasakan saat ini.”

Merka terdiam sejenak. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 15 tahunan berjalan melewati mereka. Hannah segera berlari mengejarnya.

“Stooppp. Permisi, mau tanya. Ini.. di mana ya?” tanya Hannah pada lelaki itu sambil mengulurkan tangannya yang mengisyaratkan untuk berhenti.

“Gang X7” jawab lelaki itu dengan ekspresi datar.

“Hah? X7? Nama itu sama sekali nggak ada di desa kita,” celetuk Jaden.

“Lalu, kita ada di desa apa sekarang?” tanya Hannah lagi.

“Desa Bugenvil,” jawab lelaki itu masih dengan ekspresi yang sama.

Nama desa itu jelas bukan desa tempat tinggal Hannah dan Jaden.

“Apaaaaaa?” teriak mereka serentak.

Lelaki tadi hendak melanjutkan berjalannya. Tetapi Hannah menariknya.

“Tolong kami! Kami mohon. Kami tersesat di desa ini. Tolonglah kami!” Hannah memohon kepada lelaki itu.

“Tidak bisa. Memangnya kalian berasal dari desa mana?”

“Kami berasal dari desa putih. Apa kamu tau?” ucap Hannah.

“Tidak. Aku tidak pernah mendengarnya.”

“Ya ampun, bagaimana ini. Apa yang harus kami lakukan. Kami benar-benar kehilangan arah. Kumohon, tolonglah kami!”

Giliran Jaden yang kali ini memohon , tetapi ia memohon dengan berlutut di hadapan lelaki itu. Hannah pun mengikutinya. Tak tahan melihat ada orang yang berlutut di hadapannya, lelaki itu akhirnya menolong mereka.

“Ya sudah, ikut aku.”

Mereka bertiga berjalan meninggalkan gang. Hannah dan Jaden merasa sedikit lega.

“Terima kasih sudah mau menolong kami. Kami tidak tau harus membalasmu dengan apa,’’ ucap Hannah dengan mata seperti berkaca-kaca.

“Terima kasih banyak! Omong-omong, nama kamu siapa?” kata Jaden sambil tersenyum.

“Namaku Ken.”

“Perkenalkan namaku Jaden dan ini adik kembarku, namanya Hannah,” jawab Jaden dengan sedikit riang diikuti lambaian tangan Hannah pada Ken.

Daritadi ekspresi Ken masih sama, datar. Entah karena ia tak peduli pada Hannah dan Jaden atau memang ekspresinya yang seperti itu. Mereka melanjutkan perjalanan tanpa adanya percakapan selain tadi. Tibalah mereka pada suatu rumah.

“Ini adalah rumah orangtua ku. Untuk sementara waktu kalian tinggallah di sini. Untuk selanjutnya, kalian bisa diskusikan nanti saja.”

“Baiklah. Terima kasih, Ken!” kata Hannah dan Jaden bersamaan.

-bersambung-

Previous articleTersesat (part 1)
Next articleTersesat (part 3)
si mata empat yang paling kece! Bawaannya sendu-sendu gimana gitu,hehe. Mencoba productive tapi ujung-ujungnya hmmm jangan tanya...
SHARE

Leave a Reply