Tersesat (part 3)

0

“Pakailah! Ini baju kakakku,” Ken memberikan baju kepada Hannah karena baju Hannah terlihat kotor.

“Kalau kamu, pakailah bajuku yang ini,” ucap Ken pada Jaden.

Hannah dan Jaden merasa bersyukur karena masih ada orang baik seperti Ken. Orangtua Ken pun tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran mereka. Waktu pun berganti malam. Mereka duduk di ruang makan untuk makan malam bersama.

“Bu, maaf ,ya. Kami jadi sangat merepotkan begini,” Hannah berkata dengan nada halus.

“Iya, Hannah. Tidak apa-apa. Kebetulan rumah ini sepi hanya ada Ibu dan Ken. Ayah dan Kakak Ken sudah meninggal,” jawab Ibu Ken dengan lemah lembut.

“Kami turut sedih ya, Bu.”

“Terima kasih, Jaden. Makanya itu, dengan kehadiran kalian di sini, rumah ini tidak terasa sepi lagi.” tutur Ibu Ken.
Setelah makan, Hannah membantu Ibu Ken mencuci piring. Ken tidak terlihat di rumah sehabis makan. Jaden berjalan keluar rumah. Ia duduk di bangku depan.

“Hufffttt…Jadi teringat masa lalu. Dulu, Papa, Mama, Hannah, dan Aku sering berlibur bersama, bercanda ria, tertawa gembira, berpelukan. Ingin sekali rasanya kembali ke masa-masa itu. Masa terindah dalam hidupku. Kalau saja Mama dan Papa tidak berpisah, mungkin aku akan tetap menjadi anak yang baik. Mira dan yang lainnya pun tak akan pernah menjadi korban. Maafkan Aku dan Hannah, Mira. Kami sudah keterlaluan menjahilimu,” Jaden berkata lirih dengan raut sedih.

Tanpa sadar, Ken sudah duduk menyebelahi Jaden. Ia mendengar semua yang dikatakan Jaden walaupun lirih.

“Ayo bangkit, Jaden. Kamu memang anak broken home. Tetapi kamu tidak boleh melampiaskan kesedihanmu dengan cara bersenang-senang menjahili orang lain. Syukurlah, kamu sudah sadar dengan perbuatanmu yang salah itu. Tidak ada kata terlambat. Kamu bisa memulai kembali dari nol untuk menjadi anak yang lebih baik,” Ken tersenyum sambil menepuk pundak Jaden.

“Terima kasih telah menasehatiku, Ken,” jawab Jaden dengan tersenyum pula.

Selesai mengobrol Jaden dan Ken masuk ke dalam. Mereka beranjak tidur. Seusai mencuci piring, Hannah juga beranjak tidur. Ia ternyata juga memikirkan hal yang sama seperti Jaden. Ia sangatlah merindukan suasana hangat dalam keluarganya dahulu.

Keesokan paginya, Ibu Ken yang ternyata merupakan seorang wira usaha tempat makan sedang sibuk menyiapkan makanan-makanan sejak tadi. Hannah bangun karena mendengar suara Ibu Ken yang sedang memasak. Ia lantas membantunya. Hannah sebenarnya tidak bisa memasak, berkali-kali jari Hannah tergores pisau, tak jarang pula ia menggoreng makanan sampai gosong. Tetapi ia tak menyerah dan bertekad mulai saat ini, ia harus membantu orang lain. Itu semua untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat.
Ken bangun. Ia lantas membangunkan Jaden. Ken meminta Jaden untuk membantunya menyiapkan apa-apa saja untuk tempat makan ibunya. Jaden menyanggupi. Mereka pun segera bergegas. Jaden harus bersusah payah mengangkat kursi, mengepel, dan lain-lain sampai ia banyak meneteskan keringat. Meski lelah, tetapi tetap ia lakukan tanpa mengeluh.

Tempat makan tutup pada sore hari. Ken, Jaden, dan Hannah membantu ibu membersihkan tempat makan. Mereka bercanda bersama hingga tercipta suara tawa yang menggema hari itu. Ken sudah bisa beradaptasi dengan Hannah dan Jaden. Kini sikapnya jauh lebih lembut.

Malamnya, mereka bertiga izin untuk berjalan-jalan keluar untuk menikmati suasana malam yang sendu. Berbagai gurauan dilontarkan, kebersamaan, dan keceriaan mereka bertiga menciptakan memori bahagia bagi Hannah dan Jaden.

Hannah dan Jaden berlarian mengejar Ken yang meninggalkan mereka. Dukkkk. Entah mengapa mereka kompak tersandung. Kepala mereka terbentur tanah dan akhirnya pingsan.

-bersambung-

Previous articleTersesat (part 2)
Next articleTersesat (last part)
si mata empat yang paling kece! Bawaannya sendu-sendu gimana gitu,hehe. Mencoba productive tapi ujung-ujungnya hmmm jangan tanya...
SHARE

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.