SAHUTAN IBU KARTINI

0

SAHUTAN IBU KARTINI

Oleh : Lailatul Izzati

 

Deru mesin mobil bersaing dengan suara kayuhan pedal anak sekolah membuat suasana jalanan semakin bising. Senyuman matahari seakan sirna tertutup oleh kepulan asap yang berasal dari beberapa motor berplat-B itu. Tidak heran jika penjual masker di sepanjang trotoar tidak pernah sepi pembeli.

Di antara kerumunan orang terdapat gadis berambut legam sedang berjalan sembari bersenandung ria melewati kumpulan orang yang sedang berdesak-desakan. Melihat cara berpakaiannya saja sudah bisa diprediksi bahwa ia adalah siswa teladan. Dasi abu-abu di atas kancing baju, ikat pinggang hitam melingkari pinggang, serta kaus kaki setinggi kurang lebih dua puluh sentimeter menutupi betis mungilnya.

Adalah Artyaka Gwestapo Musha. Kerap disapa Tya. Siswa berprestasi sekaligus organisator handal di SMA Kusuma Bangsa. Seantero sekolah tahu siapa dia atau bahkan seluruh penduduk kota bisa menjawab jika ada pendatang dari luar yang bertanya tentangnya. Mengapa demikian? Dia juga merupakan anak semata wayang gubernur setempat.

Sekitar dua belas menit kemudian, Tya menapaki halaman depan sekolahnya. Gerbang sekolah terbuka lebar sampai jam tujuh kurang seperempat. Selepas itu, jangan harap bisa lolos melewatinya dari amukan satpam galak bernama Pak Ludo. Di detik ini, Tya mendapatkan senyuman manis dari satpam itu. Ia pun dengan senyuman tipis. Setipis kertas layangan.

Sesampainya di kelas, beberapa teman menyambut dengan senang hati kedatangannya. Tetapi tidak jarang pula ada yang sinis melihat kehadirannya. Bagi Tya itu adalah wajar dan tidak perlu dipikirkan. Bukankah tidak semua orang akan bersikap baik kepada kita? Tugas kita hanyalah bersikap baik kepada mereka. Perihal dibalas baik atau tidak, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan.

“Kila, ini ada sedikit hadiah untukmu. Jangan lupa besok pilih aku ya,” bisik Tya di telinga teman sebangkunya.

Kila mengangguk mantap.

Besok adalah pemilihan calon ketua OSIS periode baru di sekolah Tya. Jangan melihat orang dari penampilan luarnya saja. Pepatah itu sudah ribuan kali keluar dari mulut manusia. Tampaknya sekarang pepatah itu sangat pantas untuk Tya. Dia manis, tetapi kelakuannya sama sekali jauh dari kata manis.

Dari percakapan di atas bisa dipastikan bahwa Tya adalah salah satu kandidatnya. Lalu, siapakah rival atau kandidat kedua setelah Tya? Namanya Rakabuming Yudha. Anak paralel satu jurusan MIPA yang merupakan anak kesayangan semua guru eksak. Walaupun merasa saingannya cukup berat, tetapi lelaki tampan yang biasa dipanggil Raka ini tetap santai menghadapi perkataan orang banyak yang menganggap dirinya akan kalah telak dari Tya.

Berbeda dengan Raka, Tya melakukan segala cara agar semua mata tertuju padanya. Mulai dari memberikan lembaran amplop berisi uang dua puluh ribuan dan dihiasi tulisan penuh janji kepada teman seangkatan dan beberapa adik kelasnya, menaruh bingkisan unik di ruang guru sesuai kesukaan guru masing-masing dengan selembar surat kecil di dalamnya yang berisi sifat buruk Raka, dan mentraktir kakak kelas di kantin. Banyak siswa yang awalnya memihak Raka berpindah haluan menjadi pendukung Tya. Namun, tidak sedikit pula teman dekat Tya yang tidak menyukai cara bersaingnya sehingga membuat mereka lebih memilih Raka sebagai calon ketua OSIS nantinya.

“Semangat, Raka! Taruhan yuk siapa yang bakalan jadi ketua OSIS,” ajak Tya saat bertemu Raka di lobby.

“Semangat juga, Tya! Buat apa taruhan? Sudah siap menang nih?” ujar Raka.

“Bagaimana denganmu? Sudah siap kalah?” sahut Tya merendahkan.

“Bukankah pemenang sebenarnya adalah dia yang sudah mempersiapkan diri untuk menerima sebuah kekalahan?” tutur Raka.

“Mungkin kata-kata itu hanya berlaku untukmu saja. Bagus kok, Ka. Untuk menghibur diri sendiri. Jangan lupa besok pilih aku ya! Terima kasih, Raka ganteng!” ucap Tya sembari menepuk bahu Raka.

Raka hanya tersenyum menanggapi ucapan Tya.

***

Bagaikan disambar petir di bawah panasnya terik. Keesokan harinya, Tya dinyatakan kalah dalam pemilihan ketua OSIS. Bukan tanpa alasan mereka tidak memilihnya. Selain kampanye yang dilakukan Tya kemarin, ternyata dirinya belum mempersiapkan diri untuk orasi. Akibatnya, semua dia terbata-bata saat berorasi. Tentu saja banyak siswa atau guru yang mulai tidak percaya dengannya.

Di penghujung acara, nama Raka yang dielu-elukan. Ucapan selamat dan doa berulang kali ia dengar, baik dari teman-temannya atau warga sekolah yang belum ia kenal tetapi mengucapkan lewat pesan singkat di salah satu sosial media. Namun, ada yang aneh darinya. Senyuman untuk semua orang itu seperti mengambang. Tidak jujur dari lubuk hatinya. Bukan karena sombong, lebih tepatnya dia sedang khawatir.

Tya tidak menampakkan batang hidungnya sejak pengumuman siapa yang menjadi ketua OSIS tahun ini. Sebagai rival yang baik, Raka tidak ingin menyakiti hati Tya. Akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri Tya ke kelasnya.

Sepi, sunyi, tanpa ada seorang pun di samping Tya. Tangis sesenggukan Tya membuat Raka tidak tega mengajaknya berbicara saat ini. Raka memilih keluar sebentar. Dengan tisu di tangan kanannya, Raka memulai pembicaraan.

“Ini untukmu,” ucap Raka sembari menyodorkan empat lembar tisu.

“Aku tidak butuh siapapun disini. Pergi kamu!” bantah Tya menangkis tisu yang diberikan Raka.

“Aku kira kamu seperti Squidward yang membutuhkan empat lembar tisu saat menangis. Kalau tidak butuh, ya sudah aku saja yang menangis,” sahut Raka.

Tangis Tya mulai mereda.

“Dih, nggak lucu. Mana tisunya? Maksudku itu tisunya kurang banyak. Jangan samakan aku dengan cumi-cumi sensi itu,” ujar Tya.

Raka tersenyum menyerahkan semua tisunya kepada Tya. Dia memberanikan diri duduk di sebelah Tya sambil memejamkan mata. Rasa lelahnya sudah di ujung batas.

“Padahal aku berusaha meniru sosok Ibu Kartini yang menyuruh para wanita untuk tidak bisa direndahkan. Memperjuangkan hak wanita dengan adanya persamaan hak kedudukan antara pria dan wanita. Tapi sepertinya mereka semua tidak ada yang mengerti,” cerocos Tya.

“Andaikan Ibu Kartini masih hidup, aku ingin mengirimkan email kepada beliau perihal ini. Pasti dia akan membelaku,” sambungnya.

“Memang. Dia pasti akan membalas emailmu,” ucap Raka.

Mata Tya berbinar. Ternyata masih ada yang berada di sisinya.

“Beliau akan memojokkanmu, bukan?” ucap Tya kepada Raka.

“Salah. Justru kebalikannya. Beliau akan membalas emailmu dan berkata bahwa perilakumu sangat tidak baik dan kamu malah dianggap tidak becus mengikuti ajarannya,” kilah Raka.

“Apa yang salah denganku? Bukankah aku berusaha mempertahankan hakku? Hak untuk bisa menyamakan kedudukan dengan kaum adam sepertimu. Persis seperti apa yang Ibu Kartini lakukan pada masa penjajahan dulu,” ucap Tya.

“Kamu salah menafsirkan, Tya. Kamu ingin hakmu dilindungi tetapi malah melanggar hak orang lain. Hak untuk memilih dan hak untuk berpendapat. Masih pantaskah kamu mengatasnamakan Ibu Kartini untuk membela dirimu?” ujar Raka.

Tya hanya terdiam, mengunci rapat-rapat setiap sudut bibirnya. Dirinya mulai sadar akan keburukan perilakunya yang malah menjadi penyebab kekalahan dirinya sendiri. Hasil selaras dengan niat dari hati seseorang. Awal yang buruk pasti akan berakhir buruk juga. Raka berdiri sesaat sembari mengulurkan tangan kepada Tya. Tya pun membalas uluran tangan Raka.

“Terima kasih sudah mengingatkanku, Ka. Selamat atas kemenanganmu,” ucap Kila di akhir pertemuan.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.